Berburu Oleh-Oleh di Balad

Jum'at, 9 Desember 2011 Author: editor

Bagi jamaah haji Indonesia, belanja adalah aktivitas wajib. Berbagai pernak-pernik dari makanan, pakaian, souvenir, hingga perhiasan emas menjadi buruan mereka. Bahkan ada istilah perjalanan haji jamaah Indonesia tak lengkap, jika tidak melakukan “thawaf” di Balad.

Adzan Zuhur baru saja berlalu. Semilir angin pantai laut merah, menyejukan siang yang panas. Konvoi bus tua bertuliskan “Hafail” bergerak berlahan memecah kemacetan di Chronice, Jeddah. Setelah hampir setengah jam bergulat dengan mobil pribadi, taksi, dan angkutan umum lainnya, bus-bus ini kemudian merapat di Balad. Satu persatu penumpang dengan seragam batik hijau turun dari bus. Dengan wajah sumringah mereka masuk ke deretan pertokoan di salah satu pusat perbelanjaan di Jeddah tersebut. Mereka adalah jamaah haji Indonesia yang hendak pulang ke tanah air.

Setelah hampir 39 hari beribadah di Mekkah dan Madinah, mereka mendapatkan kesempatan city tour di Kota Jeddah. Kesempatan ini pun tak disia-siakan dengan memburu bermacam oleh-oleh untuk dibawah pulang ke tanah air.

Daripada bosan menunggu saat-saat kepulangan di hotel transit, mending keluar jalan-jalan. Siapa tahu ada yang cocok untuk dibeli,” ujar Syaiful, salah satu jamaah haji asal Bekasi, Jawa Barat.

Salah satu tujuan utama para jamaah adalah Kawasan Balad. Di wilayah ini terdapat pusat perdagangan untuk berbagai segmen. Terletak tak jauh dari laut merah di sini terdapat chronice untuk kalangan menengah ke atas. Berbagai produk mulai dari arloji dari cerruti hingga tissot, pakaian mewah, perhiasan, hingga berbagai ragam produk elektronik. Chronice ini dikelilinggi toko-toko yang biasa menjadi jujugan jamaah haji Indonesia. Toko Ali Murah, Gani Murah, dan beberapa toko dengan nama-nama Indonesia.

Di toko-toko milik pendatang dari Bangladesh, Pakistan, Yaman ini jamaah Indonesia menjadi konsumen utama mereka. Tak heran jika nama toko mereka menggunakan kosakata khas Indonesia. Bahkan, sejumlah pegawai toko ini fasih berbahasa Indonesia. Mereka dengan sigap menyambut jamaah begitu turun dari bus. Mereka berlomba agar jamaah Indonesia lebih dulu masuk dan melihat dagangan ke toko masing-masing. Tak segan mereka menyediakan minuman dan makanan ringan secara gratis, agar jamaah bisa bersedia mampir.

Ayo silakan masuk, semua murah-murah,” seru para pegawai toko.

Toko-toko ini menjual beberapa pernak-pernik khas haji. Kurma, kacang ketawa, almond, kismis, tasbih, karpet, sajadah, kaftan, hingga unta-untaan. Belanja di toko-toko, jamaah harus pandai-pandai menawar. Meski banyak menggunakan label murah, bukan berarti harga yang ditawarkan juga murah. Mahalnya sewa tempat, “memaksa” para pemilik toko untuk mengeruk keuntungan berkali lipat. Jika memang ada waktu sebaiknya jamaah berburu belanjaan di pasar-pasar tradisional yang terletak di sekitar pusat perbelanjaan ini. Diantaranya Bab Shariff, Bab Makkah, dan Bab Bukhori. Setiap pasar ini mempunyai kekhasan sendiri.

  • Bab Mekkah dikenal sebagai pasar tradisional yang menjual kurma dan kasftan (jubbah perempuan) murah,
  • Bab Bukhori dikenal menjual karpet dan sajadah murah,
  • Bab Syarif dikenal dengan souvenir-suovenir murah.

Hanya saja untuk sampai di pasar-pasar tradisional ini dibutuhkan waktu khusus. Sebab untuk mendapatkan barang buruan, jamaah harus menyusuri lorong-lorong pasar. Selain itu juga dibutuhkan keahlian untuk memilih dan menawar barang terbaik dengan harga miring. “Biasanya jamaah lebih suka berbelanja di toko-toko sekitar chronice, jarang yang turun langsung ke pasar tradisional, karena mereka hanya punya waktu sekitar 24 jam sebelum berangkat pulang ke tanah air,” ujar Muhammad, mukimin yang tinggal 30 tahun di Jeddah.

Sumber : Kemenag

One Response to “Berburu Oleh-Oleh di Balad”

  1. makasih infonya. salam kenal ya :)

Kirim Komentar.