Keutamaan Madinah Al Munawwarah
Madinah memiliki keutamaan yang tak terhingga, sejarah yang tidak terhitung luasnya, kedudukan yang tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulnya. Banyak hadits-hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan atsar para sahabat yang menguatkan kedudukannya, menjelaskan keutamaanya dan peristiwa-peristiwa sejarah lainnya. Banyak hadits dan do`a Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang menerangkan bahwa kota Madinah menghimpun kebaikan dunia dan akhirat.
Dalam hadits `Aisyah radiallahu `anha bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Ya Allah berikanlah kami kecintaan terhadap Madinah seperti kami mencintai Mekkah atau lebih besar lagi, Ya Allah berikanlah keberkahan kepada Sha` dan Mud` kami dan berikanlah kami kesehatan di kota ini dan pindahkanlah wabah penyakitnya ke daerah Juhfah” HR. Bukhari no.1889 & Muslim no. 1376
Allah Subhanahu wa Ta`ala mengabulkan do`a Rasul-Nya sehingga Madinah menjadi tempat bernaung yang diberkahi, lantaran do`a beliau. Madinah selalu menjadi kota yang paling dicintai oleh setiap hati orang muslim, sebagai bukti terkabulnya do`a ini dan do`a ini juga mengandung keberkahan.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radiallahu `anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Ya Allah jadikanlah di Madinah dua kali lipat keberkahan yang telah Engkau jadikan di Mekkah” HR. Bukhari no. 1885 & Muslim no. 1369
Dalam kitab Shahihain dari Abdullah bin Zaid bin Ashim radiallahu `anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Haram dan ia mendo`akan para penduduknya, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai Tanah Haram seperti yang dilakukan oleh Ibrahim terhadap Mekkah, dan aku mendo`akan agar sha` dan mud`-nya diberkahi dua kali lipat dari do`a Ibrahim untuk penduduk Mekkah“. HR. Bukhari no.2129 & Muslim no.1360
Abdullah bin Umar radiallhu `anhum berkata, “Aku mendengar bapakku, Umar bin Khattab radiallahu `anhu berkata: “Di saat paceklik melanda Madinah, harga barang-barang melonjak tinggi“, lalu Nabi Muhammada Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Bersabarlah wahai penduduk Madinah dan bergembiralah, karen sesungguhnya aku telah meminta keberkahan untu sha` dan mud` kalian, makanlah berjamaah dan jangan berpisah-pisah, karena makanan satu orang cukup untuk dua orang, dan makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan untuk empat orang cukup untuk lima atau enam orang, sesungguhnya keberkahan itu berada dalam jama`ah “. HR. Al Bazar dengan sanad yang hasan jilid I hal.240
Dalam kitab Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah radiallahu `anhu, ia berkata: “Para sahabat bila telah memanen buah korma, mereka membawanya kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau mengmbil beberapa butir korma seraya bersabda:
“Ya Allah berikanlah keberkahan kepada buah-buahan kami, berikanlah keberkahan kepada kota kami, berikanlah keberkahan kepada sha` kami, dan berikanlah keberkahan kepada mud` kami, Ya Allah sesungguhnya Ibrahim hamba-Mu dan khalil (kekasih)-Mu dan Nabi-Mu, dan sesungguhnya aku hamba dan Nabi-Mu, bahwasanya dia berdo`a kepada-Mu untuk Mekkah dan sesungguhnya aku berdo`a kepada-Mu untuk Madinah seperti yang dimohonkan olehnya untuk Mekkah san semisalnya lagi“.
Abu Hurairah radiallahu `anhu berkata, “Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memanggil anak belia, lalu memberikan buah-buahan tersebut kepadanya”. HR. Muslim no.1373
Di Madinah keimanan berhimpun dan berpadu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radiallhu `anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Sesungguhnya keimanan akan kembali ke Madinah seperti kembalinya seekor ular ke dalam lubangnya” HR. Bukhari no.1876 dan Muslim no.147
Maksudnya seumpama ular yang bertebaran dari lubangnya untuk mencari makanannya, bila ia telah mendapatkannya, maka ia kembali ke dalam lubangnya. Seperti itulah keimanan tersebar di Madinah dan setiap mukmin dalam jiwanya ada rasa rindu, yang mendorong ziarah ke kota Madinah karena kecintaanya kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, ini meliputi seluruh masa. Pada Masa Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bertujuan untuk mempelajari Isalam, pada masa sahabat, tabi`in dan tabi’ut untuk meneladani kehidupan mereka dan setelah masa tersebut untuk melaksanakan shalat di masjid nabawi.
Diantara keutamaan Madinah, bahwa ia mengusir manusia-manusia yang jahat dari kota tersebut, adapaun manusia yang baik akan menziarahi dan menetap di kota itu.
Diriwayatkan dari Jabir radiallahu `anhu, ” Seorang Arab badui datang menemui Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk berbai`at atas Islam, keesokan harinya ia datang dalam keadaan terkena wabah penyakit, lalu si badui berkata “Aku membatalkan bai`atku, dan Nabi menolaknya samapi diulangnya tiga kali, lalu beliau bersabda:
“Madinah seperti pandai besi, ia mengkikis karatnya dan mengkilatkan yang baik” HR. Bukhari no.1883 dan Muslim no. 1383
Setiap ada orang yang jahat akan keluar dari Madinah. Allah Subhanahu wa Ta`ala menghadirkan buat kota tersebut pengganti yang lebih baik. Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan dari Abu Hurairah radiallahu `anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Akan datang suatu masa, di mana seorang lelaki mengajak anak paman dan kerabatnya, “Mari mencari penghidupan yang lebih baik, mari mencari penghidupan yang lebih baik, sedangkan Madinah lebih baik bagi mereka andai mereka mengetahui”. Demi jiwaku yang ada ditangan-Nya, tidaklah keluar seorangpun dari mereka karena membenci kota tersebut, melainkan Allah memberi kepda kota itu pengganti orang yang lebih baik. Ketahuilah! bahwa Madinah seperti tukang pandai besi yang mengkikis karat, kiamat tidak akan terjadi hingga Madinah mengusir orang-orang jahat darinya, seperti pandai besi yang mengkikis karat” HR. Muslim no.1381
Akan tetapi orang yang keluar dari Madinah karena suatu sebab dan bukan karena benci, tidak termasuk dalam ancaman di atas, karena Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Tidak seorangpun yang keluar darinya karena benci” HR. Muslim no.1381
Dari hadits di atas jelaslah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sangat menganjurkan umatnya untuk menetap di Madinah, karena beliau tahu padanya terdapat kebaikan, baik di dunia maupun di Akhirat.
Diriwayatkan dari Sa`ad radiallahu `anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, bahwasanya beliau bersabda:
“Tidaklah seseorang yang tetap tinggal (di Madinah), bersabar dengan cobaan dan kesukarannya, melainkan aku akan memberi Safa`at dan menjadi saksinya pada hari kiamat” HR. Muslim no.1363
Keutamaan dan Kemuliaan ini saja sangat cukup untuk penduduk dan penghuni Madinah.
Dahulu para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengetahui benar tentang keutamaan hidup di Madinah dan mereka bersabar atas kerasnya kehidupan di sana. Dengan harapan dapat meraih keutamaan ini, dan mereka menasehati orang yang akan keluar dari Madinah ke negri lain agar tidak melakukannya.
Diriwayatkan dari Sa`id bin Abu Sa`id dari Abu Sa`id maula Al-Mahri: Dia datang kepada Abu Sa`id Al Khudrit di malam peristiwa Al-harra untuk meminta nasehatnya untuk keluar dari Madinah, seraya mengeluhkan harga barang-barang yang tinggi, sedangkan ia mempunyai banyak tanggungan, dan dia sudah tidak mampu lagi menggung cobaan dan kesulitan hidup Madinah. Lalu Sa`id Al-Khudrit menjawab : “Celakalah, engkau! Akut tidak merestuimu untuk melakukan hal itu, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:“
“Tidaklah seseorang yang tetap tinggal (di Madianh), bersabar dengan cobaan dan kesukarannya lalu meninggal di sana, melainkan aku akan memberi Safa`at dan menjadi saksinya pada hari kiamat, jika ia seorang muslim” HR. Muslim no.1374
Dan Rasullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menganjurkan umatnya agar menutup usia di Kota tersebut, beliau bersabda:
“Siapa yang mampu menutup usia di Madinah, maka hendaklah di meninggal di sana, karena aku memberi Safa`at pada orang yang meninggal di sana” HR. Tirmizi no.3917 dan Ahmad jilid I hal.74
Diantara keutamaan Madinah Nabawiyah adalah: bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mencela orang yang mengancam keamanan penduduk Madinah atau membuat makar. Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari `Aisyah binti Sa`ad bin Abi Waqas radiallahu `anhum, ia berkata: “Aku mendengar Sa`ad berkata, “Ia berkata, “Aku mendengar Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Tidaklah seorang membuat makar terhadap penduduk Madinah melainkan ia akan mencair seperti mencairnya garam dalam air” HR. Bukhari no.1877
Nasa`i meriwayatkan dari Said bin Khalad radiallahu `anhu:
“Siapa yang mengancam penduduk Madinah dengan cara aniaya, maka Allah akan membalas ancamannya, pastilah untuknya laknat Allah, para malaikat dan manusi seluruhnya” HR. Nasa`i jilid II
Dalam shahih Muslim diriwayatkan dari jalan Amir bin Sa`ad radiallhu `anhum dari ayahnya:
“Tidaklah seseorang yang menginginkan penduduk Madinah mendapat keburukan, melainkan Allah menjadika orang itu meleleh dalam neraka seperti melelhnya timah atau garam dalam air” HR. Muslim no.1363
Peringatan ini sampai pada puncaknya, ketika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menegaskan bahwa siapa yang mengancam penduduk Madinah berarti ia telah mengancam Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Juga ada riwayat yang menjelaskan bahwa Allah tidak akan menerima dari orang tersebut amalan fardhu dan sunnahnya.
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radiallahu `anhu, bahwa Rasullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Barangsiapa yang mengancam penduduk Madinah, maka baginya laknat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya, dan Allah tidak menerima dari orang tersebut amalan fardhu dan tidak juga amalan sunnahnya” Ibnu Abi Syaibah 6/409
Dalam Hadits Jabir radiallahu `anhu, ia berkata: “Celaka orang yang mengancam Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam“, kedua anaknya atau salah seorang dari anaknya berkata, “Wahai ayahku, bagaimana mungkin ada orang yang mengancam Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sedangkan beliau telah wafat?“, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Siapa yang menakut-nakuti penduduk Madinah, sesungguhnya ia telah menakut-nakuti di antara dua lambungku” HR. Ahmad jili 3 no.354
Dalam redaksi lain, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Siapa yang menakut-nakutinya, sesungguhnya ia telah menakut-nakuti di antar dua ini“, beliau sambil menunjuk kedua lambungnya. HR Ibnu Saibah jilid 6 no.409
Dan diantara keutamaan Madinah, Kota ini tidak dapat dimasuki oleh wabah penyakit Tha`un dan juga tidak dapat dimasuki oleh Dajjal. Banyak hadits-hadits shahih yang menjelaskan tentang ini. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radiallahu `anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Di pintu-pintu masuk Madinah, ada para malaikat sehingga penyakit tha`un dan Dajjal tidak dapat memasukinya“ HR. Bukhari no.1880 & Muslim no.1379
Dalam hadits yang lain, diriwayatkan dari Anas radiallahu `anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Tidaklah setiap negri melainkan Dajjal akan menginjakkan kakinya di sana kecuali Mekkah dan Madinah, dan tidaklah setiap pintu masuk kota tersebut melainkan ada para malaikat yang berbaris menjaganya, lalu Dajjal singgah di Sapha, kemudian Madinah berguncang tiga kali dan melemparkan setiap orang kafir dan munafik dari dalamnya menuju ke tempat Dajjal” HR. Bukhari n0.1881 & Muslim no.2943 redaksinya berasal dari Muslim
Dalam shahih Bukhari diriwayatkan dari Abu Bakhr radiallhu `anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Madinah tidak akan dimasuki oleh rasa ketakutan terhadap Dajjal Al Masih, di hari itu Madinah memiliki tujuh pintu masuk dan pada setiap pintu dijaga oleh dua orang malaikat” HR. Bukhari no.1879
Disamping keutamaan-keutamaan di atas, ada dua keutamaan besar yang tidak terbandingi, yaitu di sana terdapat:
“Kuburan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan Masjid Beliau.”
Imam Malik bin Anas rahimatullah berkata tentang keutamaan Madinah:
“Kota ini adalah kota hijrah dan sunnah. Dikelilingi oleh para syuhada dan Allah Subhanhu wa Ta`ala memilih untuk Nabi-Nya dan menempatkan kuburan Nabi-Nya di sana. Di sana ada sebuah taman syurga dan di sana ada mimbar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam(lihat Musir Al Ghuram Assakin hal 457 & Wafaa al Wafaa jili I hal 74) begitu juga di sana ada Masjid Quba“.Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
Assalamu’alaikum wr.wb.
Jazaakallohu khoiron atas tulisannya tentang keutamaan Madinah.
Mohon penjelasan atas beberapa pertanyaan kami di bawah ini :
1. Apakah ada sekarang ini tanda-tanda, baik berupa patok atau tembok atau lainnya, yang menandakan batas-batas kota Madinah ?.
2. Apakah Quba masih berada di dalam teritorial kota Madinah atau di luar Madinah.
3.Apakah benar (dan ada dalilnya) bahwa menuntut ilmu di dalam Masjid Nabawi sama pahalanya dengan Jihad Fii SabililLah ?.
4.Apakah benar bahwa penduduk kota Madinah relatif lebih ramah dari penduduk Makkah ?
5.Kalau saya ingin menetap di Madinah selam 2 atau 3 bulan misalnya,lantas pulang lagi ke Indonesia,sebulan kemudian datang lagi ke Madinah (menetap di sana 2 sampai 4 bulan isalnya), langkah-langkah apa yang harus saya tempuh ?
6.Berapa kira-kira sewa rumah atau apartemen di kota Madinah yang letaknya relatif dekat dengan Masjid Nabawi (supaya tidak naik angkot lagi ke Masjid Nabawi setiap sholat 5 waktu)?.
6.Saya pernah dengar bahwa di dalam Masjid Nabawi selalu ada majelis ilmu sehingga siapa saja bisa belajar Tafsir, Fiqih dan lain-lain di dalam Masjid Nabawi ini. Apakah berita ini benar ?.
Terima kasih atas kesediaannya menjawab pertanyaan2 kami di atas.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
J.Pane, SH
HP : 08129914568