Masjid Nabawi pada Masa Raja-Raja Saudi
PERLUASAN & PEMUGARAN OLEH RAJA-RAJA SAUDI YANG PERTAMA
Pemerintah Saudi semenjak berdirinya negara tersebut, menampakan perhatian dan pengawassan yang tinggi terhadap pengelolaan dua Masjid Haram yang mulia. Bukti yang paling kuat terhadap hal ini adalah perluasan yang dilakukan pada masa raja-raja Saudi, baik untuk Haram Mekkah maupun Masjid Nabawi.
Pada bulan Ramadhan tahun 1368 H / 1951 M, raja Abdul Aziz Ali-Suud rahimhullah yang mulia memberitahukan sebuah keputusan dan mengumumkan niatnya untuk memperluas Masjid Nabawi yang mulia. Pekerjaan awal dimulai pada tahun yang sama (1951 M). Maka tanah-tanah yang berada di sekeliling Masjid dari arah barat, utara dan timur dibeli, kemudian bangunan-bangunan yang ada dibongkar dan diratakan untuk perluasan Masjid dan jalan disekitarnya.
Serambi Masjid yang terletak di arah utara pemugaran Al Majidi yang diatapi dengan luas 6.246 m² juga dibuang dan ditambah luasnya 6.024 m². Maka luas seluruh tanah yang disediakan untuk dibangun dan perluasan menjadi 12.270 m². Bagian sisi selatan yang bertatapkan pada pemugaran Al Majidiyah yang luasnya 4.056 m² dibiarkan. Sehingga luas Masjid menjadi 16.326 m².
Pembangunan dimulai pada November 1952 M. Pembangunan dilanjutkan pada masa raja Saud setelah mengkatnya raja Abdul Aziz rahimahumallah. Perluasan ini menghabiskan dana sebanyak 50 Juta Real. Raja Saud bin Abdul Aziz As-Suud yang mulia, meresmikan pembukaan kawasan perluasan pad 5 Rabi`ul Awal 1375 H/Oktober 1955 M.
BENTUK BANGUNAN
Pemugaran Masjid Nabawi oleh raja-raja Saudi yang pertama membuat bangunan berbentuk persegi panjang dengan panjang 128 m dan lebar 91 m. Yaitu terdiri dari bagain tengah Masjid arah utara yang diatap pada pemugaran Al Majidi. lantai bagian ini dilapisi dengan pualam yang telah dihaluskan. Pada tiap sisi timur dan barat bagian tengah masjid terdapat tiga serambi. Di titik pusat bagaina tengah terdapat sayap yang memanjang dari timur ke barat terdiri dari tiga serambi. Dari arah timur sayap ini, dibuat pintu yang bernama gerbang Malik Abdul Aziz. Dan pada sisi barat dibuat pintu gerbang Malik Saud. Masing-masing gerbang ini terdiri dari tiga pintu yang berdekatan. Pada sisi utara bagian tengah ada sayap yang terdiri dari lima serambi. Lebar tiap serambi ini enam meter. Pada dinding sisi utara dibuat tiga pintu.
Yang membedakan pemugaran yang dilakukan raja-raja Saudi dengan yang sebelumnya yaitu dibangun dengan bentuk konstruksi dari tiang beton yang terdiri dari 232 tiang, kedalam pondasi setiap tiang dan dinding 7,5 m. Sedangkan sebelumnya, Masjid Nabawi mempunyai 5 Menara Adzan, 3 Menara telah dihancurkan dan kemudian dibangun menara pada sudut timur dan sudut barat. Tinggi setiap menara tersebut 72 m, maka masjid mempunyai satu menera di setiap sudut.
PAYUNG RAJA FAISHAL
Jumlah jamaah haji dan pengunjung Masjid Nabawai terus bertambah sebab adanya rasa aman, tentram dan fasilitas yang menyenangkan tersedia, baik di saat bermukim maupun perjalanan. Maka Masjid Nabawi terasa sesak bagi pengunjungnya, sekalipun telah mengalami perluasan yang pertama oleh raja-raja Saudi. Maka raja Faishal rahimahullah memerintahkan untuk menyediakan tempat shalat di sebelah barat Masjid. Bangunan-bangunan di kawasan ini dibongkar dan para pemiliknya mendapat ganti rugi lebih dari 50 juta Real dan dibuat bangunan yang dipayungi, Luasnya 35.000 m². Pekerja pembuatan payung ini dimulai pada tahun 1393 H / 1973 M. Payung-payung ini dibuat ketika perluasan raja-raja Saudi yang kedua.
PERLUASAN OLEH RAJA-RAJA SAUDI YANG KEDUA (1405H/1984M -1414H/1994M)
Yaitu perluasan oleh pelayan dua kota suci, raja Fadh bin Abdul Aziz hafidzahullah. Perluasan ini adalah perluasan Masjid Nabawi yang terbesar sepanjang sejarah, dan cukup menjadi bukti tentang luasanya perluasan ini, bahwa jumlah orang yang shalat setelah perluasan ini bertambah 9 kali lipat dari kapasitas Masjdi setelah perluasan oleh raja-raja Saudi yang pertama.
Disamping keindahan bangunan yang menawan hati dan menarik perhatinan orang-orang berjiwa seni. Tujuan proyek ini agar Masjid Nabawi dapat menampung jumlah orang yang shalat di dalamnya dan para pengunjung sebanyak mungkin, khususnya di bulan Ramadhan dan Musim Haji. Dan juga membuat fasilitas yang menyenangkan bagi para peziarah selama keberadaan mereka dalam Masjid. Dan proyek ini dimaksudkan dapat mewujudkan tujuan-tujuan di atas untuk beberapa Abad mendatang.
Sebenernya perluasan ini bukan hanya bagi raja Fadh sendiri, tapi hal ini juga kebanggaan setiap Muslim yang sangat senang melihat Masjid Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam dalam corak yang indah, luas yang melegakan dan fasilitas yang memudahkan. raja Fahd bin Abdul Aziz meletakan batu pertama perluasan ini pada hari Jumat (9/2/1405 H) bertepatan dengan (2/11/1984 M). Dan melaksanakan proyek ini dimulai pada bulan Muharram (1406 H/ 1985 M) serta selesai pada tahun 1414 H / 1944 M).
BENTUK BANGUNAN
Perluasan ini adalah gambaran sebuah bagunan raksaksa yang meliputi pemugaran oleh raja-raja Saudi yang pertama dari tiga arah. bagian depan dipertahankan pada kondisi tempo dulu, sehingga pembangunan Al Majidi tetap ada ciri khas arsitekturnya apak, serambi-serambi, tiang-tiang, atap dan oranmen hiasannya pada perluasan ini dirancang agar sesuai dan sepadan dengan perluasan oleh raja-raja Saudi pertama. Sehingga dua bangunan itu seperti satu, bagian luar dinding dilapisi dengan batu granit.
Pada perluasan ini, didirikan enam menara adzan yang baru, pemugaran ini terdiri dari ballroom, lantai dasar, dan lantai dasar. Lantai dasar adalah bangunan utama yang luasanya 82.000 m², Lantainya dilapisi dengan batu pualam. Tinggi bangunannya 12,55 M. Jumlah tiang keseluruhan di lantai ini sebanyak 2104 tiang, jarak antar tiang 6 m sehingga terbentuk lorong dengan luas 6 x 6 m. Di areal atapnya ada kubah, jarak antar tiang 18 m, sehingga membentuk lorong dengan luas 18 m x 18 m, pada perluasan baru terdapat 27 lorong. Lorong ini ditutupi oleh kubah yang dapat digerakan agar dapat mendapatkan sirkulasi udara yang cukup dan penerangan yang alami di saat cuaca udara mengizinkan.
Kubah Masjidnya berdiameter 7,35 m, dengan berat bersih satu buah kubah 80 ton. Bagian dalam kubah terbuat dari kayu dengan motif ukiran tangan dan pada bagian lain dilapisi oleh kertas emas halus dan tipis. Adapun bagian luar kubah terbuat dari keramik Jerman dengan penyangga dari batu granit. Kubah-kubah ini digerakan secara elektrik .
Halaman lantai atas Masjid dapat digunakan untuk shalat, luasnya 58.250 m². Jadi luas keseluruhan dari perluasan ini 67.000 m². Areal yang dipergunakan untuk shalat yang terkena sinar matahari dilapisi dengan batu pualam dari Yunani.
Kapasitas Masjid dapat menampung kira-kira 90.000 jamaah shalat. Pada lantai atas ada serambi yang diberi atap dengan ukuran luasnya 11.000 m² dengan ketinggian 5 m, dan pada bagian lantai atas sengaja dirancang untuk pembuatan lantai dua jika diperluakan.
HALAMAN MASJID
Masjid dikelilingi dari arah selatan, utara dan barat dengan halaman yang luasnya mencapai ± 235.000 m². Sebagian halaman dilapisi dengan batu granit dan batu buatan. Halaman ini dikelilingi pagar dan kapasitas halaman ini dapat menampung kurang lebih 430.000 jamaah shalat. Di halam ini terdapat pintu masuk ke toilet, tempat wudhu dan tempat peristirahatan bagi para peziarah, yang berhubungan langsung dengan tempat perkiran mobil dua lantai di bawah tanah.
TAK TERTANDINGI
Sungguh perluasan raja-raja Saudi yang kedua merupakan perluasan Masjid Nabawi yang terbersar. Cukup kita mengetahui bahwa kemampuan daya tampung masjid 9 kali lipat dari perluasan raja-raja Saudi Pertama. Pada perluasan raja-raja Saudi pertama, Masjid dapat menampung 28.000 jamaah shalat, dan setelah perluasan yang kedua kapasitasnya menjadi 268.000 jamaah shalat, di anataranya 90.000 jamaah pada lantai atas Masjid dan jika kita tambahkan halaman yang dapat menampung 430.000 jamaah shalat, maka keseluruhan daya tampung Masjid Nabawi lebih dari 698,000 Jamaah Shalat.
Sumber : Sejarah Madinah