MIMBAR & MIHRAB bagian dalam Masjid Nabawi

Rabu, 9 November 2011 Author: editor

Pada mulanya atap Masjid Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam dipasang pada batang kurma(maksud batang tersebut menjadi tiang penyangga), maka Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam bila berkhutbah beliau berdiri didekat batang tersebut, terkadan beliau berdiri cukup lama. Lalu seorang wanita Anshar berkata:

Wahai Rasulullah!, Bolehkah kami membuatkan mimbar untukmu?

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam menyetujuinya. Maka para sahabat membuat mimbar untuk beliau. Tiga anak tangga terbuat dari pohon thurfa`. Pada hari jumat berikutnya, beliau berkhutbah diatas mimbar, maka batang kurma tersebut menangis. Diriwayatkan dalam shahih Bukhari:

Bahwasanya Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam bila berdiri saat khutbah jumat dekat dengan sebuah pohon atau pohon kurma, lalu seorang wanita Anshar berkata: “Wahai Rasulullah!, Bolehkah kami membuatkan mimbar untukmu?. Beliau bersanbda:”Kalau kalian suka.” Maka para sahabat membuat mimbar untuk beliau, keesokannya pada hari Jum`a beliau berdiri diatas mimbar, maka pohon kurma tersebut berteriak seperti teriakan bayi, kemudian Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam turun dan memegang pohon tersebut, pohon tersebut terisak-isak seperti bayi yang didiamkan, Beliau bersabda, “Pohon ini menangis karena tidak lagi mendengar dzikir yang biasa didengarkannya” HR. Bukhari no.3584

Dari jalan Anas Radiyallahu`anhu dalam kitab Ibnu Khuzaimah:

Kayu itu merengek seperti rengekan bayi

Dalam kitab Ad-darimi:

Pohon tersebut mengoak seperti suara sapi

Dari jalan Ka`ab Radiyallahu`anhu, dalam musnad Ahmad, Darimi dan Ibnu Majah:

Ketika beliau melewati pohon tersebut, pohon itu mengoak hingga retak dan pecah” Fath Al-Baari syarh hadits no.3585

Hadits tentang menangisnya pohon tersebut masyhur dan populer, dan beritanya mutawatir, dikeluarkan oleh penulis kitab shahih dan diriwayatkan lebih dari sepuluh sahabat. wafa`al wafa jilid II hal.338-390

SEJARAH MIMBAR

Mimbar dibuat pada tahun ke-8 H, dengan tiga anak tangga. Adalah Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam duduk pada tangga terakhir dan meletakan kakinya pada anak tangga ke-2. Ketika Abu Bakar Radiyalllahu`anhu menjadi khalifah, ia duduk pada anak tangga ke-2 dan meletakan kakinya pada anak tangga pertama, demi menghormati Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam. Ketika Umar Radiyallahu`anhu menjadi khalifah, ia duduk pada anak tangga pertama dan meletakan kakinya dilantai. Ketika Utsman Radiyallahu`anhu menjadi khalifah, ia melakukan seperti Umar Radiyallahu`anhu selam 6 tahun, kemudian ia naik dan duduk di tempat Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam duduk. Dan ketika Mu`awiyah Radiyallahu`anhu menjadi khalifah dan disaat haji, ia menambahkan anak tangga ke arah bawah hingga mimbar mempunyai 9 anak tangga. Dan para khalifah berkhutbah dan duduk pada anak tangga ke-7 yang merupakan anak tangga pertama mimbar Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam .

Mimbar ini terus dipertahankan hingga Masjid Nabawi terbaka pada tahun 654 H/ 1256 M, lalu diganti dengan mimbar yang dibuat oleh raja Yaman Al-Muzhaffar, kemudian mimbar ini mengalami pergantian beberapa kali. Dan terakhir mimbar hadiah khalifah Utsmani, yang dikirim oleh Sulthan Murad III pada tahun 998 H. Mimbar ini sangat indah dan dibuat dengan tingkat ketelitian yang tinggi dan sampai sekarang masih ada. Tarikh Masjid Nabawi hal 119-120

 HADITS NABI Shallallahu‘alaihi wa sallam TENTANG MIMBAR

Sebagai penguat kedudukan dan ketinggian martabat mimbar, ada beberapa hadits yang menjadi dasarnya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu`anhu, dari Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

Di anatara rumah dan mimbarku adalah salah satu taman surga, dan mimbarku ini ada di atas telagaku” HR. Bukhari n0.1888 dan Muslim no.1391

Sabda beliau:

“Salah satu dari taman Surga”

Maksudnya seperti sebuah taman surga, rahmat turun dan kebahagiaan diraih dengan selalu hadir dalam majelis dzikir. Atau maksudnya bahwa beribadah di sana dapat mengantarkan ke dalam syurga. Atau maksud hadits ini sesuai dengan maksud tekstual hadits yaitu: taman yang hakiki dengan berpindahnya tempat tersebut di akhirat ke dalam surga. Ini ringkasan dari penafsiran para ulama tentang hadits tersebut. Fathul bari, syarah hadits Bukhari no.1888

Di Antara hadits yang menunjukan keutamaan mimbar ini, bahwa siapa yang bersumpah didekatnya dengan sumpah dusta, azab(siksa)-nya akan lebih berat. Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam membolehkan bersumpah di dekat mimbarnya, jika beliau memberikan ancaman yang sangat pedih bagi orang yang berdusta di tempat ini.

Diriwayatkan dari Jabir Radiyallahu`anhu, dalam sunan Abu Daud:

Tidak seorangpun yang bersumpah dekat mimbarku ini dengan sumpah dusta walaupun demi sebuah siwak segar, melainkan ia telah mengambil tempat duduknya di nereka atau dia pasti masuk neraka” HR. Abu Daud no-3246

Juga diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hiban dan Hakim, dan dia menshahihkannya. Nasa`i meriwayatkan dengan sanad yang tsiqah dari Abu Umamah bin Tsa`labah Radiyallahu`anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

Siapa yang bersumpah dekat mimbarku ini dengan sumpah dusta untuk merampas harta orang muslim, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya, Allah tidak menerima darinya amalan wajib dan sunnahnya” Ibnu Hajar berkata Hadits ini diriwayatkan oleh Nasa`i dan sanadnya tsiqah

MIHRAB NABI

Setelah sampainya Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam ke Madinah, beliau shalat beberapa waktu menghadap ke Baitul Maqdis dan ketika turun ayat : 149 dari surah Al Baqarah:

Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram

Beliau berpaling ke arah kiblat dalam shalat selama 10 hari lebih ke arah tiang dekat kamar `Aisyah Radhiyallahu`anha. Kemudian beliau maju ke tempat shalatnya dan di sana belum ada mihrab pada masa Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam, tidak juga pada masa khulafaur rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali).

Yang pertama membuat mihrab dalam bentuk seperti ini adalah Umar bib Abdul Aziz rahimahullah pada tahun 91 H. Kelak Mihrab ini dikenal dengan Mihrab Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam. Dahulu Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam shalat di tempat ini atau dekat dari sinsi ke arah batang kurma. Dan di tempatnya ada tiang yang melekat ke Mihrab, di tiang tersebut ada tulisan “Al Usthuwanah Al Mukhallaqah”, maka barang siapa yang berdiri sejajar dengan mihrab ini maka tempat shalat Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam berada di sebalah kanannya, maka seharusnya ia mengambil sisi arah barat dari tempat yang menjorok ke dalam. Kira-kira tempat yang menjorok itu di sebelah kirinya, maka di sanalah tempat berdirinya Rasul Shallallahu‘alaihi wa sallam untuk shalat. Dan karena pembuatan Mihrab sehingga orang yang bersujud di Miharb itu berarti ia meletakan keningnya di tempat telapak Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam  di saat shalat.

Ibnu Abu Zinad menentukan letak pohon yang selalu ditempati Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam shalat, bahwa pohon itu tepat berada di tempat “Al Usthuwanah Al Mukhallaqah” yang berada di kanan mihrab Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam. Tarik Masjid Nabawi hal 104-105

Mihrab yang ada sekarang dibangun pada masa Sulthan Qayitbay pada tahun 888 H. Mihrab ini kemudian diperbaiki secara total pada tahun 1404 H pada masa pemerintahan Pelayanan dua kota suci, Raja Fadh Hafidzahullah.

Sumber : Sejarah Madinah

Kirim Komentar.