WASPADAI Ojek Kursi Roda
Hari berangsur gelap. Adzan magrib telah lama berlalu. Ribuan orang dengan baju putih lalulalang di depan terowongan Raja Fahd yang menghubungkan Mina dan kawasan aziziah. Mereka ada yang bersiap menginap, atau barusan melempar junmroh dan menuju tenda untuk istirahat. Kemeriahan ibadah haji begitu terasa di sekitar lokasi lempar jumroh di kawasan Mina. Namun, jika tak waspada bahaya bisa saja mengancam
Sekelompok laki-laki berkulit hitam dan berudeng sorban tampak ribut berdebat dengan seorang jamaah berpakaian ihram. Sementara di sekitar mereka, ada sekitar 14 jamaah lanjut usia yang menonton perdebatan dengan wajah binggung setengah ketakutan.
Merasa tertarik, kami rombongan wartawan dari media center haji berupaya mendekatinya. Dari situ kami baru tahu jika lima-enam orang kulit hitam itu dari Yaman. Mereka menyewakan kursi roda dan tenaga untuk mengantar jamaah sepuh dalam rombongan itu menuju tenda di mina jadid. Curangnya, kelima orang ini di tengah jalan tiba-tiba minta bayaran sebesar 500 riyal atau sekitar Rp1.200 lebih per kursi roda. Padahal akad awal versi ketua rombongan adalah 100 riyal atau sekitar Rp240.000 per kursi roda.
Setelah terjadi perdebatan panjang, petugas yang bergabung dalam rombongan wartawan memutuskan tidak menggunakan jasa kursi roda itu. Dengan bersungu-sunggut pria yaman itu meninggalkan kami dengan penuh kecewa. Keempatbelas lansia itu akhirnya dibawa ke kantor daker mekkah. Ada yang digendong, dipapah, dan digandeng tangganya oleh petugas haji.
“Hati-hati dengan para tukang ojek kursi roda itu, biasanya mereka hanya ingin mencari untung sajan” ujar Nachrowi, mukimin yang membantu di daker mekkah.
Mereka, lanjut Nachrowi sering memanfaatkan gap bahasa antara jamaah Indonesia dengan mereka. Parahnya jamaah tidak bisa berbuaat banyak karena mereka memang secara fisik membutuhkan kursi roda di sisi lain mereka tak menawar karena tidak paham bahasa mereka.
Sumber : Kemenag